Siapa di Balik 6,7 Miliar Saham Bukalapak yang Diborong Investor?
Franklin County News — Bayangkan sebuah saham yang tiba‑tiba menjadi pusat perhatian pasar modal Indonesia itu yang terjadi pada saham PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) baru‑baru ini. Dalam dua hari perdagangan pada 9–10 Februari 2026, terjadi aksi beli besar‑besaran sebanyak sekitar 6,7 miliar lembar saham Bukalapak, sebuah jumlah yang mencuri perhatian pelaku pasar. Aksi ini menghasilkan lonjakan volume transaksi yang signifikan dan menjadi sorotan seantero Bursa Efek Indonesia (BEI), menunjukkan adanya pergulatan kepentingan signifikan di balik layar pasar modal.
Fenomena ini bukan sekadar transaksi biasa pembelian sebanyak 6,7 miliar saham tersebut berasal dari satu pihak besar, yang menunjukkan strategi jangka panjang yang berbeda dari aksi spekulatif para ritel investor. Bukalapak sendiri bukan sekedar startup teknologi biasa; perusahaan ini sejak IPO pernah jadi sorotan sebagai unicorn e‑commerce lokal yang berusaha mempertahankan relevansi di tengah persaingan ketat Tokopedia dan Shopee. Keputusan untuk memborong saham dalam jumlah besar biasanya mencerminkan keyakinan atas pertumbuhan fundamental atau upaya konsolidasi kendali atas perusahaan.
Siapa Investor Besar yang Membeli 6,7 Miliar Saham Itu?
Mengurai siapa yang berada di balik pembelian saham Bukalapak tersebut membawa kita pada nama PT Kreatif Media Karya sebuah entitas yang selama ini dikenal sebagai pemegang saham utama di Bukalapak. Dalam transaksi besar tersebut, PT Kreatif Media Karya tercatat menyerap seluruh 6,7 miliar saham BUKA dan secara signifikan menambah porsi kepemilikan mereka di perusahaan. Langkah ini dilakukan pada harga sekitar Rp 139 per lembar saham, dengan total nilai transaksi mencapai hampir Rp 932 miliar.
PT Kreatif Media Karya sendiri merupakan induk dari beberapa pemilik modal penting Bukalapak, termasuk konglomerat media dan pemegang saham strategis lainnya. Dengan pembelian besar ini, porsi kepemilikan mereka meningkat menjadi sekitar 40,55 % dari total saham, memperkuat posisi sebagai pengendali utama Bukalapak di tengah dinamika pasar modal. Aksi ini mencerminkan kepercayaan kuat mereka terhadap prospek jangka panjang perusahaan, di tengah tekanan kompetitif dan transformasi strategi bisnis Bukalapak dalam beberapa tahun terakhir.
Mengapa Aksi Borong Saham Ini Penting Bagi Bukalapak dan Pasar?
Pembelian saham dalam volume masif seperti 6,7 miliar unit bukan sekadar angka — ini memberikan sinyal kuat kepada pasar. Investasi sebesar itu menunjukkan bahwa pihak yang membeli percaya bahwa harga saham Bukalapak undervalued atau memiliki potensi pertumbuhan jangka panjang yang belum sepenuhnya tercermin di harga pasar. Dalam pasar modal yang sering bergerak dengan sentimen dan spekulasi jangka pendek, aksi investor besar seperti ini dapat memengaruhi arah sentimen investor lain.
Selain itu, aksi semacam ini juga memperkuat struktur kepemilikan dan stabilitas pengendalian perusahaan. Dengan bertambahnya saham yang dimiliki oleh PT Kreatif Media Karya, risiko terbentuknya pengambilalihan saham pihak lain berkurang. Ini penting mengingat Bukalapak tengah menjalani periode transformasi strategis, termasuk beralih fokus bisnis ke layanan digital dan efisiensi operasional untuk meningkatkan profitabilitas. Aksi buyback saham sendiri juga tengah dipersiapkan manajemen Bukalapak sebagai langkah stabilisasi pasar modal.
Apa Makna Aksi Ini bagi Masa Depan Bukalapak?
Aksi pembelian saham besar‑besaran sering dianggap sebagai bentuk keyakinan investor terhadap masa depan perusahaan. Dalam kasus Bukalapak, meskipun sempat mengalami tekanan harga saham sejak IPO, keputusan PT Kreatif Media Karya untuk mempertebal kepemilikan memberikan sinyal bahwa pihak internal percaya Bukalapak mampu bangkit dan meraih pertumbuhan jangka panjang yang lebih baik. Ini bisa menjadi momentum bagi Bukalapak dalam menarik kepercayaan investor lain dan menguatkan posisi di pasar modal.
Namun di sisi lain, tantangan tetap ada. Bukalapak telah melakukan perubahan strategi signifikan dalam beberapa tahun terakhir, termasuk menutup layanan penjualan produk fisik dan fokus pada layanan digital, permainan, dan ekosistem produk virtual. Perubahan ini mencerminkan respon terhadap kompetisi ketat di industri e‑commerce Indonesia, dan aksi borong saham besar‑besaran menjadi salah satu cerminan dukungan terhadap arah baru perusahaan. Ke depan, publik dan investor akan menunggu hasil kinerja operasional dan strategi manajemen dalam mengembalikan kepercayaan pasar lebih luas.
