Pemkot Tambah 25 Unit Mesin Pengolah Sampah Multi-Teknologi
Franklin County News — Pemerintah Kota Bandung mengambil langkah strategis untuk mengatasi persoalan sampah yang selama ini menjadi tantangan besar bagi kota metropolitan. Di dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) 2026, Pemkot Bandung mengusulkan penambahan 25 unit mesin pengolah sampah multi‑teknologi sebagai bagian dari upaya memperkuat sistem pengelolaan sampah serta mengurangi ketergantungan terhadap Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Langkah ini juga dipandang sebagai respon atas sorotan Gubernur Jawa Barat terkait kondisi kebersihan kota dan ketahanan sistem persampahan.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengatakan bahwa meskipun armada pengangkutan sampah saat ini relatif memadai, kemampuan pengolahan masih belum optimal.
“Pengangkutan sudah cukup mumpuni. Hal yang masih kurang adalah pengolahan sampah, sehingga perlu penambahan mesin‑mesin pengolahan,” ujar Farhan dalam paparan rencana program tersebut.
Timbulan Sampah di Bandung dan Kebutuhan Teknologi
Kota Bandung menghasilkan rata‑rata 1.500 ton sampah per hari, namun dari jumlah tersebut hanya sekitar 350 ton yang dapat diolah oleh fasilitas yang ada saat ini. Sisanya, sekitar 981 ton, masih harus dibuang ke TPA Sarimukti, sehingga menimbulkan beban besar bagi kapasitas TPA serta berpotensi memicu masalah lingkungan seperti pencemaran dan longsor sampah.
Gap antara timbulan dan kapasitas pengolahan ini menjadi urgensi bagi Pemkot Bandung untuk mempercepat adopsi teknologi pengolahan sampah yang lebih canggih dan efisien. Mesin‑mesin yang akan ditambahkan nantinya dipilih berdasarkan pendekatan multi‑teknologi, termasuk penggunaan metode 3R (Reduce, Reuse, Recycle) serta kemungkinan penerapan berbagai teknologi pemusnahan dan pengolahan berkelanjutan.
Anggaran dan Alokasi Sumber Daya
Untuk mewujudkan rencana ini, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung mengusulkan tambahan anggaran sebesar sekitar Rp96 miliar pada RAPBD 2026. Anggaran itu mencakup penambahan mesin pengolah sampah, perekrutan petugas pemilah dan pengolah sampah di tingkat kewilayahan, serta peningkatan sarana dan prasarana pengelolaan sampah di seluruh kota.
Selain mesin, Pemkot juga berencana menempatkan sekitar 1.597 petugas yang akan bertugas sebagai pemilah dan pengolah sampah di kecamatan dan kelurahan. Targetnya adalah agar pengolahan sampah khususnya sampah organik dapat dilakukan sedekat mungkin dengan sumber timbulnya sampah, sehingga beban terhadap TPA dapat berkurang drastis.
Mesin Pengolah Sampah Multi‑Teknologi: Apa Itu?
Mesin pengolah sampah multi‑teknologi yang dimaksud Pemkot Bandung bukan sekadar alat incinerator (pembakar), melainkan kombinasi berbagai teknologi yang lebih adaptif terhadap karakter sampah kota. Teknologi seperti mesin pengolah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF), pemrosesan organik menjadi kompos atau bioenergi, dan sistem 3R akan diintegrasikan untuk mengoptimalkan hasil dan efisiensi pengelolaan sampah.
Pendekatan ini selaras dengan tren pengelolaan sampah modern di berbagai kota besar, yang menekankan reduksi volume, pemanfaatan kembali, dan pemaksimalan nilai ekonomi dari limbah. Misalnya, pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif atau energi listrik telah menjadi fokus beberapa pemerintah kota di Indonesia termasuk upaya mengubah sampah menjadi fuel atau listrik di 30 kota besar oleh pemerintah pusat.
Tahapan Pemasangan dan Target Operasional
Menurut rencana, seluruh 25 unit mesin baru ini ditargetkan dapat dipasang dan mulai beroperasi pada triwulan pertama 2026. Target ini membuat Bandung ingin segera meningkatkan kapasitas pengolahan sampah jauh sebelum puncak musim hujan dan lonjakan sampah tahunan.
Jika terwujud sesuai jadwal, Bandung diharapkan dapat mengurangi selisih pengolahan sekitar 200 ton sampah per hari, sehingga menekan jumlah sampah yang harus dibuang ke TPA sekaligus mempercepat proses penanganan sampah berbasis teknologi.
Pendekatan Wilayah dan Kewilayahan
Langkah inovatif lain yang menjadi fokus Pemkot adalah penguatan pengelolaan sampah di tingkat RW dan kelurahan. Dengan adanya petugas khusus di setiap wilayah, masyarakat diharapkan dapat lebih aktif dalam memilah sampah dari rumah tangga, yang pada akhirnya mempermudah proses pengolahan di mesin‑mesin multi‑teknologi.
Pendekatan ini sekaligus menjadi bagian dari edukasi publik, karena pengurangan timbulan sampah tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga perilaku masyarakat dalam memisahkan jenis sampah sejak dini.
Tanggapan Publik dan Tantangan Lingkungan
Meskipun rencana penambahan mesin ini mendapatkan dukungan karena dianggap mampu menangani persoalan sampah secara komprehensif, ada juga suara kritis yang menyoroti aspek lingkungan. Beberapa anggota DPRD Bandung menyatakan kekhawatiran terkait potensi risiko lingkungan dari mesin pemusnah seperti insinerator, serta meminta agar Pemkot mempertimbangkan alternatif teknologi lebih ramah lingkungan daripada hanya mengadopsi satu jenis mesin.
Diskusi ini mencerminkan bahwa meskipun teknologi menjadi bagian penting dari solusi, aspek lingkungan dan sosial tetap harus menjadi pertimbangan dalam menentukan jenis mesin dan metode pengolahan yang digunakan.
Potensi Dampak dan Harapan Jangka Panjang
Jika rencana ini berhasil direalisasikan, Pemkot Bandung berharap ada penurunan volume sampah yang signifikan ke TPA Sarimukti, peningkatan kualitas lingkungan, dan pemulihan citra kota sebagai pusat aktivitas urban yang bersih dan lestari. Selain itu, integrasi antara petugas wilayah, teknologi, dan partisipasi publik diharapkan menjadi model bagi kota lain yang menghadapi tantangan serupa di Indonesia.
Transformasi Pengelolaan Sampah Kota
Penambahan 25 unit mesin pengolah sampah multi‑teknologi oleh Pemkot Bandung merupakan langkah ambisius dalam memperkuat sistem pengelolaan sampah kota secara modern dan berkelanjutan. Tidak sekadar pembuangan, strategi ini menggabungkan teknologi, sumber daya manusia, serta kebijakan publik untuk mengurangi beban sampah yang terus bertambah di perkotaan. Dengan dukungan anggaran yang memadai dan keterlibatan masyarakat luas, langkah ini diharapkan mampu menghasilkan kota yang lebih bersih, sehat, dan ramah lingkungan di masa depan.
