Di Persimpangan Mampu dan Mau, Sikap Gen Z soal Kepemilikan Rumah

Di Persimpangan Mampu dan Mau, Sikap Gen Z soal Kepemilikan Rumah

Franklin County News — Generasi Z, lahir antara 1997 hingga 2012, kini mulai memasuki usia produktif. Meski memiliki potensi penghasilan, minat mereka untuk membeli rumah masih dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari harga properti yang tinggi, kemampuan finansial, hingga preferensi gaya hidup. Fenomena ini menimbulkan dilema antara mampu secara teori dan mau secara psikologis.

Faktor Finansial Jadi Pertimbangan Utama

Menurut survei terbaru, salah satu alasan utama Gen Z menunda kepemilikan rumah adalah faktor finansial. Harga rumah yang terus meningkat, terutama di kota-kota besar, membuat generasi ini kesulitan menabung untuk uang muka.

Rizky, seorang pekerja kreatif berusia 25 tahun di Jakarta, mengatakan, “Kalau dihitung-hitung, gaji saya cukup untuk hidup sehari-hari, tapi menabung untuk DP rumah butuh waktu bertahun-tahun. Makanya, saya masih menunda membeli rumah.”

Bank dan lembaga keuangan pun mencatat bahwa meski Gen Z memiliki potensi penghasilan stabil, banyak dari mereka memilih menyewa atau tinggal bersama keluarga karena prioritas gaya hidup dan fleksibilitas finansial.

Preferensi Gaya Hidup yang Fleksibel

Selain faktor finansial, Gen Z menekankan gaya hidup yang fleksibel. Mereka lebih memilih mobilitas tinggi, bekerja secara remote, dan berinvestasi di pengalaman atau pendidikan dibandingkan properti.

Seorang analis properti, Maria Utami, menjelaskan, “Gen Z melihat rumah bukan hanya sebagai aset, tapi juga tanggung jawab besar. Mereka cenderung menunda kepemilikan rumah sampai merasa siap, baik secara finansial maupun mental.”

Tren Menyewa Daripada Membeli

Data dari portal properti menunjukkan bahwa minat Gen Z untuk menyewa rumah atau apartemen meningkat 35 persen dibandingkan pembelian. Penyewaan menawarkan fleksibilitas lokasi, biaya lebih terjangkau, dan mengurangi tanggung jawab perawatan jangka panjang.

Selain itu, konsep co-living atau tinggal bersama rekan sebaya juga semakin populer di kalangan Gen Z. Tren ini memungkinkan mereka tetap mandiri sambil menjaga biaya hidup tetap rendah dan membangun jaringan sosial yang luas.

Kesadaran Investasi Properti Mulai Muncul

Meski cenderung menunda membeli rumah, sebagian Gen Z menunjukkan minat untuk investasi properti dalam jangka panjang. Mereka melihat rumah sebagai aset penting yang bisa memberikan keuntungan finansial di masa depan.

Beberapa startup properti bahkan menyesuaikan strategi dengan menawarkan unit rumah atau apartemen skema cicilan ringan, sehingga Gen Z yang memiliki penghasilan terbatas tetap bisa berpartisipasi dalam pasar properti.

Dampak Sosial dan Ekonomi

Dilema antara mampu dan mau ini memiliki dampak luas bagi sektor properti. Permintaan untuk rumah baru menurun di segmen usia muda, sementara penyedia layanan sewa dan co-living mengalami pertumbuhan pesat.

Pengembang properti mulai menyesuaikan desain dan harga rumah agar lebih menarik bagi Gen Z. Konsep rumah compact, efisiensi energi, dan lokasi strategis menjadi fokus utama untuk menarik minat generasi ini.

Perspektif Psikologis Gen Z

Menurut pakar psikologi, ketidakmauan Gen Z membeli rumah tidak semata-mata karena faktor finansial. Ada unsur keinginan untuk hidup fleksibel, menghindari komitmen besar, dan menunggu waktu yang tepat secara emosional.

Dr. Anita Handayani, psikolog sosial, menjelaskan, “Mereka sadar pentingnya rumah, tapi membeli properti adalah keputusan jangka panjang. Banyak dari mereka ingin menunggu stabilitas karier dan kondisi hidup yang ideal sebelum mengambil langkah tersebut.”

Strategi Pemerintah dan Pengembang

Pemerintah dan pengembang properti menyadari fenomena ini. Program rumah subsidi, cicilan ringan, dan pengembangan apartemen vertikal menjadi alternatif untuk menarik minat Gen Z.

Selain itu, edukasi keuangan dan literasi properti mulai digalakkan agar generasi muda memahami pentingnya memiliki aset properti sebagai bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang.

Gen Z berada di persimpangan mampu dan mau dalam kepemilikan rumah. Faktor finansial, gaya hidup fleksibel, dan prioritas investasi menjadi pertimbangan utama. Meskipun sebagian menunda pembelian, minat investasi properti jangka panjang tetap muncul.

Fenomena ini mendorong pengembang dan pemerintah menyesuaikan strategi agar produk properti lebih sesuai dengan kebutuhan Gen Z. Dengan literasi keuangan dan alternatif cicilan yang tepat, generasi muda diharapkan dapat mengambil keputusan bijak soal kepemilikan rumah, tanpa mengorbankan fleksibilitas dan kualitas hidup mereka.

AHM Bekali Ribuan Pelajar SMK dengan Teknologi Honda Terbaru
Setoran Pajak Bisnis Digital Rp 44,55 T per November 2025