Kelengkeng Tak Lagi Sekadar Tanaman Kebun, Peluang Bisnis Bernilai Tinggi di Pasar Kota
Franklin County News — Buah kelengkeng, yang selama ini dikenal sebagai tanaman kebun biasa, kini muncul sebagai komoditas bisnis bernilai tinggi. Popularitasnya di pasar kota besar meningkat pesat, seiring tren konsumsi buah segar dan permintaan untuk produk olahan kelengkeng. Para petani dan pelaku usaha kini melihat peluang bisnis yang menjanjikan dari buah tropis ini.
Selama puluhan tahun, kelengkeng hanya ditanam di kebun keluarga atau perkebunan kecil di Jawa, Sumatra, dan Kalimantan. Namun, tren gaya hidup sehat dan meningkatnya permintaan buah segar di kota besar membuat kelengkeng naik daun di pasar modern.
Menurut data Asosiasi Hortikultura Indonesia (AHI), penjualan kelengkeng segar di pasar modern Jakarta, Surabaya, dan Bandung meningkat sekitar 45% dalam tiga tahun terakhir. Permintaan ini terutama didorong oleh konsumen kelas menengah yang mencari buah tropis segar dan berkualitas tinggi.
“Dulu kelengkeng dianggap buah musiman biasa, tapi sekarang menjadi komoditas premium yang diminati restoran, hotel, dan supermarket,” ujar Dr. Ratna Wulandari, ahli hortikultura dari Institut Pertanian Bogor.
Beberapa varietas kelengkeng kini menjadi primadona di pasar kota, antara lain Biji Manis, Kristal, dan Longan Super. Varietas ini memiliki ciri manis, tekstur daging buah kenyal, dan aroma yang khas. Kualitas buah menjadi penentu harga jual, dengan kelengkeng premium dijual Rp 80.000–120.000 per kilogram di pasar modern.
“Petani yang berhasil menanam varietas unggulan bisa mendapatkan keuntungan jauh lebih tinggi dibanding kelengkeng biasa,” kata Ratna.
Hal ini mendorong petani untuk mulai mengembangkan teknologi budidaya yang lebih modern, seperti irigasi tetes, pemupukan organik, dan pengendalian hama terpadu.
Selain dijual segar, kelengkeng kini juga diproses menjadi produk olahan bernilai tambah, seperti sirup, jus, selai, permen, dan bahkan minuman fermentasi. Pelaku usaha kuliner dan start-up pangan melihat kelengkeng sebagai bahan baku inovatif yang dapat menarik konsumen muda.
Contohnya, salah satu start-up di Bandung berhasil meraup omzet lebih dari Rp 500 juta per bulan dari produk minuman kelengkeng fermentasi yang dijual ke supermarket dan kafe premium. Produk ini laris karena rasa manis alami dan kandungan vitamin C yang tinggi.
“Sekarang kelengkeng bukan hanya buah konsumsi, tapi juga peluang industri kreatif pangan,” ujar Ananda Wijaya, CEO start-up kuliner tersebut.
Meski peluangnya menjanjikan, bisnis kelengkeng tidak lepas dari tantangan. Salah satunya adalah ketahanan buah yang relatif pendek, sehingga memerlukan penanganan cepat dari kebun ke pasar. Petani harus memastikan proses panen, penyimpanan, dan distribusi dilakukan secara efisien agar kualitas buah tetap terjaga.
Selain itu, fluktuasi cuaca dapat memengaruhi produksi. Kekeringan atau hujan berlebihan dapat menurunkan hasil panen hingga 30%. Hal ini mendorong petani untuk mengadopsi teknik budidaya modern dan sistem prediksi cuaca berbasis teknologi.
Pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah mendorong pengembangan komoditas buah tropis bernilai tinggi, termasuk kelengkeng. Program bantuan benih unggul, pelatihan budidaya, dan pemasaran digital menjadi bagian dari strategi meningkatkan produktivitas petani.
“Program ini bertujuan agar kelengkeng tidak hanya menjadi tanaman hias atau konsumsi rumah tangga, tapi juga komoditas ekonomi yang mendukung kesejahteraan petani,” ujar Direktur Jenderal Hortikultura, Ir. Siti Hamidah.
Permintaan kelengkeng di kota besar meningkat seiring gaya hidup sehat dan minat terhadap produk lokal berkualitas. Supermarket dan e-commerce buah segar kini menawarkan kelengkeng premium yang dikemas rapi, bahkan ada layanan delivery same-day untuk menjaga kesegaran buah.
Analisis pasar menunjukkan bahwa konsumen kota bersedia membayar harga tinggi untuk kelengkeng segar atau olahan yang higienis dan berkualitas. Tren ini membuka peluang bagi petani dan pelaku usaha untuk mengembangkan model bisnis berbasis rantai pasok yang efisien.
Petani yang ingin memanfaatkan peluang ini perlu mengadopsi strategi premiumisasi dan branding produk. Misalnya, menanam varietas unggul, mengemas buah dengan standar kualitas tinggi, dan memasarkan melalui kanal modern, seperti e-commerce, supermarket, dan restoran.
Sementara itu, pelaku usaha olahan kelengkeng disarankan fokus pada inovasi produk dan diferensiasi rasa agar dapat bersaing di pasar yang semakin kompetitif. Kemasan menarik dan label kesehatan juga menjadi nilai tambah untuk konsumen kota yang sadar kualitas dan estetika produk.
Kelengkeng kini tidak lagi sekadar tanaman kebun, tetapi menjadi peluang bisnis bernilai tinggi yang menjanjikan di pasar kota. Dengan varietas unggul, olahan kreatif, dan strategi pemasaran yang tepat, petani dan pelaku usaha dapat meraih keuntungan signifikan.
Tren gaya hidup sehat, dukungan pemerintah, serta inovasi produk menjadi pendorong utama pertumbuhan bisnis kelengkeng. Masa depan kelengkeng tampak cerah, tidak hanya sebagai buah konsumsi, tapi juga sebagai komoditas strategis yang menguntungkan bagi ekonomi lokal dan peluang usaha kreatif.
